• 10

    Jul

    Saat yang Pasti Tiba

    Ketika malam mulai beranjak Semburat di ufuk barat perlahan lenyap Tertelan gulita yang kian merayap Larut dalam warna gelap yang kian pekat Membungkus hatiku yang lembab Oleh gerimis derita dan air mata Dalam simpuhku ku termenung Terbayang saat kelak jasadku terbujur kaku Tertimbun tanah basah dan berbau Menggerogoti daging Meremuk tulang beluang Tak ada lagi waktu untuk beramal Tak ada lagi permohonan yang dapat diminta Hanya sesal tak terkira yang tersisa Angan tanpa batas begitu menyiksa Andai dulu tak ada waktu yang tersia Andai dulu harta tak memperdaya Namun angan tinggalah angan Yang mati tak kan kembali ke dunia Coba jujur bertanya pada diri Apa yang disari selama ini Adakah yang bisa dibawa nanti Sebagi perisai diri dari api Bila bekal tak dibawa Dengan apa perta
  • 7

    Jul

    Awan Putih di Langit

    Dari jendela kaca, aku melihat kelangit yang tinggi, sambil menatap cahaya mentari yang melimpah di siang hari yang cerah. Cukup mempesona. Sangat mendamaikan rasa. Tatkala awan putih meliputi langit yang membiru, kepulan-kepulan bak kapas bersih itu pasti bergerak ke satu arah yang sama, mengikuti arah tiupan bayu. Liang liuk pepohonan turut menambah kemeriahan alam. Sangat menenang dan mengasyikkan. Memperhatikan keharmonian alam, hati diusik berbagai kenangan. Mendongakkan kepala ke langit yang tingg. Bermain dan berimajinasi bersama kawan-kawan. Berbagai gabaran yang timbul di pikiran ketika melihat awan putih yang melata. Terdapat kepulan-kepulan awan yang besar bagaikan kepala gajah. Ada pula kepulan-kepulan kecil umpama asapyang keluar dari cerobong kereta api tua. Tidak kur
-

Author

Follow Me