Jadilah Pemilih yang Cerdas

11 Feb 2014

61305606e9e566d585c13b9d73f23043_maskot-pemilu-2014-si-kora

Sumber illustrasi google

Hari senin 10 februari 2014 gue ngehadirin sebuah acara diskusi oleh fakultas gue Ilmu Komuikasi UNISSULA secara live di salah satu stasiun televisi nasional yang berkaitan dengan pemilu, yaitu menjadi Pemilih Cerdas, adapun pembicaranya dari salah satu dosen ilmu politik Universitas Dipenegoro, perwakilan KPU Semarang, and relawan demokrasi. Gue pun menggaris bawahi perkataan dari bapak dosen bahwa kita kalo milih dilihat dulu platform partainya.

Menurut gue gimana kita mau ngeliat platform partai, sedangkan kebanyakan media khususnya televise yang selalu aja nyiarin tentang Tawuran Politik, ibarat kata Loe senggol gue bacok , naah gimana masyarakat yang awam bakalan ngerti partai mana yang ideal buat ngebawa negri ini ke arah yang lebih cerah, beritanya selalu partai ini, partai itu, partai anu, orang pentingnya kena korupsi, jadi masyakat pun menilai partai ini, itu, anu kotor doyannya makan duit haram (korupsi).

Kita kaga bisa nyalahin masyarakat yang bila nanti golput, karena menurut gue ini merupakan fenomena grup think, masyarakat bakal menilai dari mana partai dia berasal bukan dari personality nya, padahal kalo dikaji yang salah bukan partainya tapi lebih ke personnya, because gue yakin semua partai ngelarang keras buat makan duit haram (korupsi), tpi yang namanya tupai sepintar apa dia melompat pasti bapakbelur juga.

Nah ketika diskusi mengenai pemilih cerdas, gue juga menayakan tentang system kepemerintahan yg saat ini terjadi, yaitu bila ada salah satu orang politik terpilih menjadi anggota legislatif bahkan presiden, dia masih diperkenankan untuk tetap duduk di kursi struktural partai. Trus jawaban beliau itu sah-sah aja, karena menurut beliau di Negara mana pun itu berlaku. Nah ini yang gue sama sekali kaga sependapat, kenapa?… because bagaimana mau ngebawa kepentingan rakyat, sedangkan dia sendiri ngebawa kepentingan partainya.

Oke ketika orang ingin dipilih dia harus melalui sebuah partai, yang kemudian dia jadi caleg, but jangan juga pas dia kepilih dia masih menduduki kursi yang strategis di partainya, beberapa waktu lalu gue nonton talk show yang ada di salah satu stasiun televisi dengan tokoh internasional yaitu Bapak BJ Habibie. Di era beliau para PNS baik yang duduk di daerah maupun pusat dilarang menjadi pengurus di partainya, and mereka diberi kesempatan memilih mau jadi PNS atau pengurus partai, gue sependapat dengan beliau, karena menurut gue kalo mereka memiliki dua jabatan mereka kaga bakalan fokus buat ngebawa kepentingan rakyat Indonesia, yang ada mereka mudah di-interfensi oleh kepentingan partainya.

Nah gue sih berharap para caleg nanti yang kepilih atau bahkan presiden terpilih sadar diri kalo mereka terpilih buat ngesejahterain seluruh rakyat Indonesia bukan rakyat yang cuma memilihnya, bahkan bukan juga buat ngesejahterain partainya. So jadilah pemilih yang cerdas yah guys :)


TAGS Artikel


-

Author

Follow Me